Ternyata Budaya timur dan barat jarang melibatkan peran ayah dalam mengasuh anak-anak di keluarga. Padahal dari hasil penelitian
yang menyangkut 1.200 anak menunjukkan bahwa kunci kebahagiaan seorang
anak terletak pada waktu yang berkualitas anak dihabiskan bersama
ayahnya. Anak-anak
yang memiliki waktu tetap untuk berkomunikasi dengan ayahnya memiliki
rating nilai 87 dari 100 untuk skala kebahagiaan. Sementara itu,
anak-anak yang jarang berbicara dengan ayahnya menyatakan bahwa skala
kebahagiaannya berada di level 79 secara rata-rata (Kompas, 2010).
Hasil studi ini dilansir oleh sebuah lembaga Inggris untuk anak yang
bernama Children's Society. Mereka mengatakan bahwa hasil penelitian
ini "sangat signifikan" karena riset ini menggambarkan bahwa keberadaan
seseorang pada masa dewasa berkaitan dengan hubungannya dengan kedua
orangtua saat ia berada di usia remaja. Responden penelitian ini berusia antara 11 dan 15 tahun dan nyaris setengahnya mengatakan, "hampir tak pernah" berbicara
dengan ayahnya mengenai topik penting, sementara hanya 28 persen anak
mengatakan jarang berbicara mengenai hal penting dengan ibunya.
Para ayah mungkin saja tak memiliki waktu untuk membincangkan
hal-hal yang penting dengan anaknya. Namun, mereka sering kali bermain
ala pegulat dengan anak dan ternyata ini adalah hal yang penting pula
untuk perkembangan anak. "Ada
penelitian yang mengatakan permainan adu gulat antara ayah dan anak
(dengan lembut) bisa mendorong eksplorasi anak pada masa mendatang.
Banyak yang berpikir bahwa permainan semacam ini bisa meningkatkan
agresi pada anak lelaki. Namun, ada banyak data yang mendukung bahwa hal
ini justru mendorong empati pada anak," papar William Pollack, profesor
klinis dari Harvard Medical School. Studi
juga menunjukkan bahwa para ayah sering kali menguatkan anak dan
mendorong mereka untuk bereksplorasi dan bertemu orang lain. Ayah pun
lebih sering mengajak anak untuk bermain ketimbang ibu.
Patrick Tolan, profesor di Curry School di University of Virginia,
mengatakan, "Para ibu membantu anak merasa lebih didengarkan,
diantisipasi, dan diingini. Sementara itu, ayah mengajar mereka
bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana mengontrol diri
mereka saat keinginan mereka tidak terpenuhi (dengan kata lain, mengajar
anak tidak manja)."
Sebuah
studi lain yang dilakukan di Universite de Montreal School of
Psychoeducation berupa observasi interaksi orangtua dan anak balitanya
saat mereka berada di situasi berisiko. Contoh eksperimennya, seorang
asing mendekati anak dan saat si anak melihat mainan ditempatkan di atas
tangga. Di penelitian tersebut, terlihat bahwa ibu mencoba berada dalam
jarak yang sangat dekat, sementara ayah mengamati dari jauh. Menurut
para peneliti, jarak jauh yang diberikan ayah membuat anak berani untuk
mengeksplorasi tanpa harus takut tak ada yang menjaganya. "Kami
menemukan bahwa para ayah lebih mendorong anak untuk mengeksplorasi
ketimbang ibu. Gaya yang tak terlalu protektif inilah yang mendorong
anak untuk berani bereksplorasi," ujar pemimpin studi, Daniel Paquette.
Para anak yang berpikiran mandiri pasti sepakat bahwa mereka akan lebih
senang bereksplorasi tanpa adanya pengawasan superketat dari ibunya
setiap saat dan setiap waktu, dan hal ini akan menggiringnya ke arah
kepuasan pribadi (bahagia). Intinya adalah keseimbangan tanpa perlu
overprotektif terhadap anak. Jadi, jangan lupa untuk mendorong suami
menyisihkan (bukan menyisakan) waktu untuk anak secara rutin.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar