23 Maret 2013

Kanker Benar-benar Bisa Bikin Kantong Kering.


Jakarta, Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian global, termasuk di Indonesia. Besarnya masalah kanker tidak hanya berkaitan dengan pengobatan yang susah, tetapi juga masalah ekonomi. Pengobatan kanker benar-benar bisa bikin kantong kering.

Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian global dengan angka mencapai 13 persen (7,4 juta) dari semua kematian setiap tahunnya. 70 persen dari kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi tumor (jinak dan ganas) adalah 4,3 per 1000 penduduk di Indonesia.

"Jumlah kasus kanker di ASEAN terus naik, biaya pengobatannya juga luar biasa. Jadi kalau di Indonesia kanker relevan dengan istilah kantong kering. Biayanya besar tapi kita tidak tahu persis berapa banyaknya karena kan pengobatan kanker tidak hanya butuh biaya obat tetapi juga biaya rumah tangga yang habis selama perawatan, transportasi dan biaya nginap, karena rumah sakit kanker cuma ada di kota besar jadi butuh biaya lain-lain juga diluar obat dan rumah sakit," jelas Prof Hasbullah Thabrany, Guru Besar FKM UI dalam sambutannya membuka acara Studi ACTION (ASEAN Cost In Oncology) di Indonesia, di Hotel JW Marriot Kuningan, Jakarta, Jumat (16/12/2011).

Saat ini besarnya permasalahan kanker di Indonesia terutama yang berkaitan dengan dampak ekonomi belum diketahui secara pasti. Untuk itu, penting sekali dilakukan penelitian-penelitian terkait. Hal ini tentu akan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dalam pengendalian kanker di nusantara.

Indonesia menjadi negara pertama yang memulai Fase II Studi ACTION (ASEAN CosTs In oNcology), sebuah studi tentang dampak sosial ekonomi kanker yang akan diadakan di 8 negara anggota ASEAN, yaitu Malaysia, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmarm Filipina, Thailand dan Vietnam.

Indonesia mendapatkan jumlah responden terbesar yaitu sebesar 2400 pasien dan total responden 10.000 di 8 negara ASEAN. Studi akan dilakukan di 12 rumah sakit pusat kanker di Indonesia, yaitu:

RS Kanker Dharmais (Jakarta)
RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta)
MRCCC Siloam Hospital (Jakarta)
RS Medistra (Jakarta)
RS Hasan Sadikin (Bandung)
RS Karyadi (Semarang)
RS Sardjito (DIY)
RS Sutomo (Surabaya)
Klinik Onkologi (Surabaya)
RS Sanglah (Bali)
RS Wahidin (Makassar)
RS Adam Malik (Medan)

"Studi akan dilakukan mulai bulan Januari 2012 pada pasien kanker diagnosis baru pada 6 minggu terakhir yang terdaftar di rumah sakit yang sudah ditentukan, kemudian 3 bulan lagi kira-kira bulan April kita akan tanya lagi perkembangan pasien, pengobatan yang dia pilih dan berapa biaya obat hingga nanti sampai akhir tahun," jelas Prof Hasbullah.

Prof Hasbullah menjelaskan bahwa pasien yang direkrut akan dipantau selama 1 tahun setelah kanker terdiagnosis dan serangkaian pertanyaan serta buku harian biaya akibat kanker akan diberikan kepada setiap pasien untuk menentukan keluaran berupa beban keuangan, kemiskinan akibat sakit, kualitas hidup, dampak psikologi, biaya rumah sakit, biaya kesehatan diluar rumah sakit, biaya lain-lain, biaya tidak langsung, kesulitan ekonomi, status penyakit dan status survival (pasien).

"Studi ini sangat penting karena kita ingin mengetahui berapa beban biaya dari penyakit kanker dan biaya rumah tangga. Kanker tidak hanya butuh biaya pengobatan tetapi juga ada biaya transport karena rumah sakit kanker kan adanya hanya di rumah pusat," jelas Menteri Kesehatan dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH.

Selain itu, Menkes mengatakan dengan studi ini juga diketahui berapa besar biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk iuran kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu.

"Bagi masyarakat yang kurang mampu pengobatan kanker dicover pemerintah, sekarang iuran jaminan kesehatan (Jamkes) kan Rp 6000/kepala/bulan. Nah ini cukup atau tidak segitu, makanya dilakukan studi," jelas Menkes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar